Fakta atau hoaks: mencari pekerjaan yang ‘layak’ dan
‘memanusiakan’ dewasa ini ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami?
Jawabannya: Fakta.
Milenial dan Gen Z siap-siap gigit jari, deh.
Gara-gara permintaan kualifikasi selangit dari kebanyakan
perusahaan (minimal lulusan sarjana lah, pernah magang di beberapa korporasi
mentereng lah), mayoritas mereka yang lahir antara tahun 1980-an sampai 2000-an
rupa-rupanya kesulitan memperoleh pekerjaan yang oke sebelum menginjak kepala
tiga.
![]() |
Salah satu persyaratan lowongan kerja yang paling bikin gigit jari. |
Ini bukan tebakan asal, apalagi cap-cip-cup kembang kuncup,
melainkan hasil dari penelitian terbaru yang diterbitkan oleh Universitas Georgetown, universitas riset
swasta di Georgetown, Washington, D.C., Amerika Serikat.
Menurut penelitian tersebut, nasib milenial jauh lebih apes
daripada generasi pendahulunya, generasi Baby Boomers, yang mana bisa
mendapatkan pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan, bahkan di usia 20-an.
Bagaimana bisa?
Kata peneliti yang tergabung dalam riset ini, nih, ini
lantaran generasi Milenial dituntut untuk berpendidikan lebih tinggi sekaligus
mengantongi pengalaman kerja yang lebih berkualitas daripada generasi
sebelumnya.
Sebenarnya, apa, sih, yang dimaksud dengan pekerjaan yang ‘layak’?
Suatu pekerjaan dikatakan ‘layak’ apabila mampu mendukung
gaya hidup yang mandiri. Dengan kata lain, gaji atau upah yang diperoleh dari
pekerjaan tersebut haruslah mencukupi sekurang-kurangnya biaya hidup standar.
Berarti, di tingkat nasional, seseorang dengan pekerjaan
yang ‘layak’ semestinya bisa membawa pulang setidaknya Rp5.500.000 setiap
bulannya.
Mirisnya, rata-rata upah karyawan di Indonesia malahan belum menyentuh nominal tiga juta rupiah
per bulan.
Mau tahu apa yang lebih miris daripada fakta ini?
Ternyata, sebagian besar Milenial, sekalipun sudah berumur
30 tahun lebih, belum juga bisa merasakan kehidupan yang ‘layak’ menurut
standar di atas.
Sebaliknya, ayah dan ibu mereka dapat mencapai target
tersebut tiga tahun lebih muda daripada anak-anak mereka, atau di usia 27
tahun.
Barangkali selisih tiga tahun terlihat seperti, ah, hal yang
sepele.
Namun siapa sangka, konsekuensinya bisa benar-benar fatal,
loh.
Begini, tanpa pekerjaan yang layak, itu artinya tidak ada
tempat tinggal yang layak, tidak ada kondisi keuangan yang stabil, dan, dalam
jangka panjang, semua ini akan berujung pada satu hal: masa depan yang suram.
Alamak!
Tidak melulu soal gaji, masih bersumber dari penelitian yang
sama, aset generasi Milenial juga dinilai jauh lebih kecil daripada aset
generasi Baby Boomers, bahkan setelah nilainya disesuaikan mengikuti tingkat
inflasi.
Dan, jika lulusan perguruan tinggi saja terseok-seok
diterima di perusahan yang memanusiakan, apa kabarnya dengan mereka yang
bermodalkan ijazah SMA dan setara?
Kabar mereka sama mengenaskannya, Bro/Sis!
Berdasarkan survei Universitas Georgetown, hanya 26% dari
total responden yang mengaku memiliki pekerjaan layak di ulang tahun yang
ke-35.
Coba tebak apa latar belakang pendidikan mereka?
Ya, sekolah menengah atas!
Jadi, kalau saat ini kamu sedang dalam proses melamar
pekerjaan, satu kata untukmu: bersabarlah.
Jangan putus asa untuk menyerahkan lamaran demi lamaran ke
perusahaan-perusahaan incaranmu.
Dan, apabila sejauh ini usahamu belum juga membuahkan hasil,
baca kembali dua paragraf awal tulisan ini.
Mencari pekerjaan yang ‘layak’ dan ‘memanusiakan’ dewasa ini
memang ibarat mencari jarum dalam
tumpukan jerami.
Akhir kata, pantang menyerah, ya, wahai para pejuang cuan!
***
Tulisan: Ristra Russilahiba (Be Eggstraordinary)
Foto: Ethan Sykes
No comments:
Post a Comment
Pssst: menulis komentar yang bijak dan enggak mengandung unsur SARA itu keren, lho. Cobain, deh.